Teknikal

Teknik Trading Sederhana Tapi Profit dengan DeMarker

Indikator DeMarker (DM) termasuk jarang dipakai oleh trader dalam penentuan dan analisis suatu pasangan mata uang. Nmaun begitu, bukan berarti indikator ini tidak bagus, hanya saja karena memang tidka banyak yang membahasa penggunaannya. Indikator ini mirip dengan indikator lain seperti RSI atau Stochastic Oscillator, yang bertumpu kepada wilayah jenuh jual dan jenuh beli sebagai pertanda untuk trader melakuakn aksi buy atau sell.

Indikator DeMarker termasuk dalam kelompok indikator Oscillator, jika kita cek di MT4. Indikator ini akan berada di luar layar utama jika kita aplikasikan, sehingga tidak mengganggu pandangan kita ke layar yang berisi tampilan candlestick. Ini juga mempermudah kita melihat korelasi antara indikator ini dengan candlestick sehingga membantu analisis menjadi lebih baik. Dibandingkan dengan indikator lain dalam grup Oscillator, DeMarker juga tergolong sederhana karena hanya ada satu garis sebagai penunjuk.

(Baca juga : Teknik Trading Sederhana Tapi Profit )


Tampilan DeMarker (bawah) pada Layar MT4

Garis yang sederhana ini juga memberikan kemudahan dalam hal pengaturan. DeMarker pada intinya menggunakan periode 14 secara otomatis. Kita dapat mengganti nilai periode ini sesuai keinginan kita, namun jangan lupa bahwa niali yang diganti sebaiknya merupakan bagian dari strategi trading. Periode yang dimaksud di sini adlaah jumlah candlestick yang menjadi dasar penghitugan DeMarker, sehingga jika nilainya 14 berarti ada 14 candlestick sebelumnya yang jadi bahan perhitungan nilai DeMarker.

Selain garis, ada juga nilai batas atas dan batas bawah. Nilai tersebut adalah 0,300 dan 0,700 yang bertindak sebagai batasan area jenuh jual dan jenuh beli. Nilai diatas 0,700 disebut dengan jenuh beli dan nilai di bawah 0,300 disebut jenuh jual. Dari batasan inilah kelak yang akan dijadikan analisis untuk melakukan entry buy atau sell.


Pengaturan DeMarker

Bagaimana Teknik Trading Menggunakan DeMarker ?

Seperti yang sudah disebut, cara trading menggunakan DeMarker sebenarnya cukup mudah. Perhatikan garis yang terdapat di dalam indikator ini dan perhatikan nilai batas jenuh jual dan jenuh beli yang ada. Di sini, pendekatan entry terdiri dari dua, yakni mengikuti trend yang sedang terjadi atau berlawanan dengan trend yang sudah terjadi.

Untuk teknik trading mengikuti trend yang sedang terjadi, kita bisa masukkan entry buy saat garis melewati nilai 0,700. Sebaliknya, untuk entry sell, kita masukkan entry sell saat melewati nilai 0,300. Selama garis berada di atas 0,700 selama itu pula kita tahan posisi buy. Hal yang sama untuk sell, selama garis di bawah nilai 0,300 maka posisi terus dipertahankan. Teknik ini cocok dilakukan saat terlihat candlestick terus bergerak satu arah, sebab hal ini menunjukkan bahwa pasar sedang dalam trend yang kuat.

Sementara jika pasar dalam keadaan tenang atau sideways, maka kemungkinan yang paling baik adalah dengan menggunakan indikator ini untuk melawan arah. Kita bisa lakukan entry buy saat DeMarker mendekati 0,300 atau berada di bawah nilai ini dan kemudian kita bisa lakukan sell saat garis pada indikator menunjukkan 0,700 atau melebihi nilai tersebut. Ciri khas dari keadaan yang sideways adalah candlestick tidak banyak bergerak atau bergerak dalam rentang terbatas saja.

Karena termasuk dalam grup Oscillator, maka indikator ini tergolong leading indicator alias indikator yang bergerak “lebih dahulu” dibanding harga. Oleh karena itu, untuk menghindari kemungkinan kesalah entry karena terlalu cepat, sebaiknya dipasangkan dengan indikator lain yang sifatnya “lebih lambat” dibanding harga. Jika tidak ingin dipasangkan dengan indiaktor lain, maka berikutnya stop loss yang harus diperhatikan.

(Baca juga: Teknik Trading Sederhana Tapi Profit dengan Pola Candlestick )

Bagaimana dengan Stop Loss dan Target Profit?

Target stop loss dan target profit dapat dilakukan dengan pendekatan bermacam-macam. Diantaranya stop loss diatur pada saat garis DeMarker terus turun mendekati nilai ekstrem dari indikator. maksudnya, jika kita melakukan order buy di saat DeMarker di bawah 0,300 maka kita bisa atur stop loss di dekat nilai 0. Begitupun jika kita melakukan order sell pada saat jenuh beli, maka stop loss bisa kita atur di dekat nilai 1,00 dari DeMarker itu sendiri.


Contoh Trading dengan Menggunakan DeMarker

Kemudian untuk target profit, bisa dilakukan dengan mengaturnya dengan cara TP dipasang di saat garis DeMarker bergerak menuju ekstrem lainnya. Misalnya jika kita melakukan buy saat indikator menunjukkan jenuh jual, maka pengaturan profit dibuat di level jenuh beli atau di atas 0,700. Sebaliknya, jika melakukan order jual di saat garis indikator di atas jenuh beli, maka target profit yang bisa diatur adalah pada saat garis menuju area jenuh jual di sekitar 0,300. Cara di atas adalah cara yang umum dilakukan untuk mengatur TP dan SL.

Cara lainnya, dengan menggunakan pendekatan nilai pips. Nilai yang dipakai misalnya 30 atau 50 pips atau nilai lainnya. Bisa juga dengan mengandalkan perubahan bentuk dari candlestick. Namun kedua cara dia atas jarang dipakai oleh trader yang menggunakan DeMarker ini.

(Baca juga : Teknik Trading Sederhana Tapi Profit Dengan Bollinger Bands )

Apa yang Harus Diperhatikan?

Teknik trading sederhana ini bisa menghasilkan profit jika dilakukan dengan sistem yang benar. Teknik trading forex ini bisa mendapat profit konsisten jika sistem yang ada dilengkapi dengan SL dan TP yang sudah kita atur. Jangan coba melanggar aturan, terutama soal SL yang sering kali tidak dipasang saat melakukan trading.

Seperti yang sudah disebut bahwa indiaktor ini adalah termasuk oscillator, maka terkadang ada kemungkinan terjadi lagging karena keterlambatan indikator merespon harga. Hal ini disebabkan karena indikator ini menghitung candlestick yang terjadi sebelumnya untuk kemudian ditampilkan dalam bentuk garis di tampilan indikator. Oleh karena itu, sebaiknya menggunakan bantuan indikator lain yang bersifat leading untuk memberikan gambaran yang lebih baik sebelum melakukan entry.

Karena indikator ini berdasarkan data dan priodenya sudah ditentukan dalam parameter, maka sebaiknya time frame atau kolom waktu yang digunakan minimal 1 jam (H1). Hal ini untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai arah dari garis. Dikhawatirkan, indikator akan banyak menunjukkan kesalahan jika menggunakan kolom waktu yang lebih kecil karena data yang terkumpul juga lebih sedikit. Semakin besar kolom waktu yang digunakan, semakin bagus.

Parameter periode bisa kita atur sesuai kebutuhan. Perlu diingat semakin kecil nilainya maka fluktuasi garis akan semakin meningkat. Sebaliknya, jika semakin periode yang yang diatur maka fluktuasi garis indikator akan semakin mendatar. Jangan sampai salah mengatur periode karena jika terlalu tinggi atau terlalu rendah fluktuasinya akan berdampak pada keberhasilan tingkat trading nantinya.

Yang terakhir, indikator adalah alat bantu dan bukan sebagai unsur satu-satunya dalam trading. Pertimbangkan hal lain yang mungkin berpengaruh dalam keberhasilan penggunaan indikator ini. Jauhi atau bahkan jika perlu jangan melakukan trading jelang ada rilis berita penting atau pidato yang bisa saja membuat harga bergejolak. Walaupun kita sudah melengkapi dengan SL, namun tentunya lebih baik jika menambah kerugian yang tidak perlu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *