Semua Tentang NFP

Click Here for English Version of This Article

NFP alias Non Farm Payroll atau Non Farm Employment Change, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Perubahan Tenaga Kerja Non Pertanian adalah salah satu rilis berita yang menjadi pusat perhatian trader forex. Bahkan, bisa disebut rilis NFP adalah “ibu” dari semua rilis berita ekonomi dan fundamental di forex.

Baca juga : GDP, Inflasi, Pengangguran dan Suku Bunga

Rilis data NFP biasanya dilakukan setiap hari Jumat pertama di awal bulan, pukul 08.30 waktu New York. Selain NFP, data lain yang ikut dirilis adalah Angka Partisipasi Kerja, Angka Upah Per Jam dan rincian dari NFP dari sektor jasa, manufaktur, pemerintahan dan lain – lain. Data dari NFP ini juga penting buat the Federal Reserve untuk melihat sejauh mana perkembangan tenaga kerja di USA karena salah satu mandat the Federal Reserve (The Fed) adalah memperhatikan tenaga kerja di USA.

Dual mandate The Fed ini, yang membuat pasar melihat kecenderungan angka NFP. Selain mengurusi moneter, the Fed juga harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan melalui kebijakan moneternya. Dan indikator utama dari pemenuhan mandat ini adlaah dengan melihat laporan serapan tenaga kerja di dalam NFP. Kenapa sektor non pertanian saja yang dirangkum? Karena sektor jasa dan manufaktur mencakup 90% lebih perekonomian USA, dibanding sektor pertanian yang kurang dari 10%.

NFP merupakan salah satu berita yang ditunggu pasar. Bahkan, beberapa stasiun TV ekonomi sampai menyediakan slot khusus yang membahas NFP ini dan mengulasnya secara mendalam. Sebagai trader, tentu kita bertanya bagaimana dampaknya NFP ini kepada trading forex. Sebelumnya, kita perhatikan dulu data penting yang harus diperhatikan dalam NFP ini.

  1. NFP, data ini mencakup jumlah tenaga kerja yang tercipta, baik oleh swasta ataupun pemerintah. Lembaga yang mengeluarkan adalah Bureau of Labor and Statistics. Rilis data ini menunjukkan berapa banyak orang yang bekerja dalam waktu 1 bulan di seluruh wilayah USA.
  2. Unemployment Rate, atau tingkat pengangguran. Tingkat pengangguran di USA sempat menyentuh level 10% saat krisis 2008 dibanding sekarang  yang berada di 3%. Mengenai angka pengangguran, sudah dibahas di artikel ini.
  3. Average Hourly Earning atau Upah Rata – rata Per Jam. Kenaikan dari upah ini yang menjadi fokus the Fed untuk melihat kemungkinan tekanan inflasi. Upah yang naik akan mendorong konsumsi dan bisa meningkatkan inflasi. Sebaliknya, upah yang turun bisa memperlambat konsumsi dan bisa menurunkan inflasi. Naik dan turunnya inflasi akan mempengaruhi the Fed dalam menurunkan atau menaikkan suku bunga.
  4. Private Non Farm Payrolls, adalah jumlah tenaga kerja yang tercipta oleh sektor swasta di bidang jasa. Government Payrolls adalah jumlah tenaga kerja yang tercipta oleh instansi pemerintah (mirip PNS) dan Manufacturing Payrolls adalah tenaga kerja yang tercipta di sektor manufaktur seperti pabrik.

Baca juga : Teknik Trading Sederhana Tapi Profit dengan William Percentage Range (Williams %R)

Kesemua data di atas dirilis bersamaan, sehingga kita harus cermat dalam membaca rilis tersebut. Bahkan, terkadang situs penyedia berita terkena down karena banyaknya trader yang mengakses situs mereka. Atau, angka rilisan terlambat muncul 1 – 2 menit karena situs mendadak ramai dengan trader yang ingin melihat hail rilisan.

Pertanyaan yang seirng muncul adalah, “Mengapa saat NFP bagus, tapi USD malah turun?” atau sebaliknya. Jawaban sederhananya, pasar sudah mengkalkulasikan hal tersebut. Perlu diingat bahwa setiap Rabu sebelum NFP dirilis, ada rilis data ADP, yang dikeluarkan lembaga swasta untuk mencatat pertambahan tenaga kerja. Investor sering menjadikan data ADP ini sebagai rujukan untuk NFP.

Lainnya adalah fokus the Fed. Saat krisis 2008, benar bahwa fokus the Fed adalah menciptakan lapangan kerja sebanyak – banyaknya karena angka pengangguran mencapai 10%. Namun, saat mulai tapering off terjadi di 2016 dan angka pengangguran stabil turun, fokus the Fed berubah. Daripada hanya fokus ke kuantitas jumlah pekerja, the Fed justru fokus ke kualitas tenaga kerja. Dan kualitas yang dimaksud adalah upah yang diterima pekerja, apakah naik atau turun. Itu sebabnya, fokus pasar sejak 2016 bukan lagi memperhatikan NFP, namun kepada Average Hourly Earning.

Kemudian, terkadang selain data tenaga kerja, data lain juga bisa dirilis bersamaan dengan NFP. Hal ini bisa menjadi distorsi terhadap data NFP. Seperti contoh di gambar, selain rilis sektor tenaga kerja, ada juga rilis neraca perdagangan (trade balance ) dan ada juga rilis inventaris ( wholesale inventory ).

Faktor lainnya adalah nuansa pasar. Nuansa pasar yang risk off atau risk on, terkadang membuat NFP semakin kuat atau justru melemah. Mirip seperti efek pasang surut air laut dan bulan, saat pasar risk off misalnya dan NFP bagus, pasar bisa bereaksi dengan buy USD sangat kuat. Atau saat pasar risk off namun NFP jelek, bisa jadi dampaknya USD akan stagnan atau sedikit menguat. Dan seterusnya untuk kombinasi risk on dan NFP yang bagus atau jelek.

Rincian data NFP juga terkadang diperhatikan oleh pasar, misalnya tingkat pengangguran tertutup yang di atas tertulis U6 Unemployment Rate atau sektor mana saja yang menyerap tenaga kerja. Sektor pariwisata atau retail adalah sektor dengan upah yang rendah, sehingga jika terjadi banyak penyerapan tenaga kerja di sektor ini, pasar belum tentu merespon NFP meskipun secara kumulatif hasilnya menghasilkan angka yang tinggi. Sebaliknya, jika yang diserap banyak dari sektor manufaktur atau jasa, pasar bisa merespon dengan baik angka NFP, meskipun terkadang di bawah prediksi analis secara keseluruhan.

Gabungan dari semua faktor di atas harus diperhitungkan. Memang terdengar sulit untuk memahami kesemuanya, namun seiring berjalannya waktu, jika trader benar – benar serius ingin belajar dan penasaran dengan NFP, biasanya hal tersebut menjadi sesuatu yang menarik. Bahkan, bagi sebagian orang itu hal yang mudah unutk diprediksi. Karena umumnya, respon pasar terhadapa NFP adalah akumulasi dari trend yang terbentuk. NFP yang terus menerus baik diikuti sub data NFP yang juga bergerak searah akan memberikan gambaran bahwa perekonomian USA bergerak menuju ke arah yang baik dan ini bagus buat USD. Sebaliknya jika serapan tenaga kerja kurang dan sub data NFP juga memburuk, maka ini bisa membuat USD terkoreksi.

Untuk trader pemula, ada baiknya tidak ikutan trading menjelang, saat dan beberapa saat setelah NFP rilis. Pergerakan harga terkadang bergerak sangat liar, karena pasar masih mencerna rilis – rilis data NFP, rincian data NFP dan melihat nuansa yang ada di pasar. Selain itu, beberapa broker biasanya memberikan aturan tambahan saat ada berita yang high impact seperti ini, atau malah spread dari broker melebar hingga berkali lipat.

Sebagai pemula, pelajari dahulu bagaimana respon pasar terhadap NFP dan amati pergerakannya. Jika sudah ada kejelasan harga akan naik atau turun, baru boleh ikut entry posisi. Itupun, tetap harus memperhatikan lot dan pastikan stop loss dan target profit sudah diatur. Jangan terjebak dengan perkataan untuk “berani mati” saat ada rilis seperti ini, karena taruhannya bisa membuat akun terkena Margin Call. Tentu, kita semua ingin menjaga modal kita seawet – awetnya.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *