Fundamental

Benarkah Inflasi yang Dirilis Lembaga?

Click Here for English Version of This Article

Banyak yang merasa bahwa rilis inflasi yang disampaikan oleh lambaga resmi suatu negara, entah itu badan statistik ataupun bank sentral tidak menggambarkan keadaan ekonomi seutuhnya. Alasannya, masyarakat merasa harga-harga yang naik melebihi nilai inflasi yang disampaikan oleh lembaga-lembaga tersebut.

Baca juga : GDP, Inflasi, Pengangguran dan Suku Bunga

Hal tersebut sebenarnya sangat wajar, karena inflasi yang disampaikan oleh badan atau lembaga resmi adalah inflasi umum. Inflasi umum menghitung seluruh barang dan jasa yang ada, lalu dibandingkan harganya dalam satu periode tertentu. Tentu saja, bagi sebagian besar masyarakat ada yang merasa harga naik tinggi di produk tertentu, namun ada juga yang turun di produk tertentu.

Lembaga statistik menghitung semua harga barang, mulai dari sekecil peniti sampai mesin pesawat. Yang dibutuhkan oleh masyarakat setiap hari ataupun yang hanya diperlukan sesekali. Bahkan barang yang bagi sebagian orang tidak pernah dibeli pun, tetap akan dihitung. Hal inilah yang membuat terkadang orang merasa apa yang disampaikan badan statistik tidak menggambarkan keadaan ekonomi mereka.

Dengan metode pembobotan, maka seluruh kenaikan harga barang dan jasa tersebut dihitung. Penghitungan ini menggunakan metode Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mana ditetapkan nilai dasarnya 100. Misalkan IHK naik dari 100 ke 101, artinya terjadi inflasi 1% di suatu negara. IHK sendiri dihitung menurut basis tahun tertentu. JIka IHK 2014 adalah 100 dan IHK 2019 adalah 110 misalnya, artinya dalam 5 tahun terjadi inflasi 10%.

Baca juga : Teknik Trading Sederhana Tapi Profit dengan Pola Candlestick & Fibonacci Retracement

Bagi rumah tangga, pengeluaran terbesar biasanya adalah bahan makanan, utilitas, transportasi dan pendidikan. Jika ada yang masih menyewa rumah, kenaikan harga properti juga ikut berpengaruh. Tak heran, inflasi yang terjadi di rumah tangga berbeda dengan yang disampaikan badan atau lembaga. Rumah tangga mungkin tidak menyadari kenaikan harga tiket kapal laut misalnya, tapi badan atau lembaga resmi akan menghitung hal ini.

Berdasarkan hal itu, maka inflasi yang ada di rumah tangga biasanya lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan laporan juga dari BPS, inflasi bahan makanan yang lebih tinggi dari inflasi umum. Belum lagi inflasi pendidikan yang tiap tahun naik dua digit. Ini semua berujung kepada tingginya inflasi rumah tangga dibanding inflasi umum.

Jika kita bisa hitung  contoh secara kasar, inflasi bahan makanan berada di sekitar 10% setiap tahun, pendidikan 15% setahun. Jika kedua pos pengeluaran ini adalah dominan dalam suatu rumah tangga, maka artinya paling tidak inflasi di rumah tangga tersebut minimal sudah 10% setahun. Bandingkan misalnya dengan rilis inflasi Indonesia di 3%, jelas ini jauh di atas rata-rata. Dengan kata lain, sebauh keluarga harus bisa menambah pendapatan minimal 10% untuk menjaga gaya hidup dan daya beli mereka.

Jika inflasi rumah tangga tersebut sama setiap tahun, maka dalam waktu 7 tahun, sebuah rumah tangga harus menggandakan pendapatannya untuk menutupi inflasi. Karena dalam waktu 7 tahun dan inflasi 10%, secara rumus aritmatika sudah mencapai 100% nilai inflasinya. Rumah tangga yang tidak bisa menyikapi hal ini dengan kenaikan pendapatan yang sama, harus dihadapkan kepada dua pilihan : mengurangi pengeluaran atau menurunkan kualitas daya beli dan gaya hidup.

Oleh karena itu, kita juga sebaiknya mampu menghitung inflasi rumah tangga sendiri. Jika sebagian besar pengeluaran untuk makanan, maka kita harus mewaspadai kenaikan harga barang pangan. Jika sebagian besar habis untuk utilitas (listrik, air, telepon) maka waspadai kenaikan tarif. Begitu seterusnya, sehingga kita dapat mengetahui seberapa banyak penghasilan yang harus bertambah setiap tahun untuk menjaga gaya hidup setiap tahunnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *