GDP, Inflasi, Pengangguran dan Suku Bunga

Click Here for English Version of This Article

Sebagai seorang trader, kita sering sekali mengenal istilah GDP, Inflasi, Angka Pengangguran dan Suku Bunga. Semua berita yang berkaitan dengan ekonomi makro suatu negara, pasti berkaitan dengan keempat hal tersebut. Pertanyaannya, apakah pengaruh keempat indikator ekonomi tersebut untuk trader forex? Bagaimana menghubungkan hasil rilis keempatnya dengan trading forex?

Baca juga : Emas : Investasi, Mata Uang Atau Trading ?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita lihat dulu pengertian dari keempat indikator tersebut. GDP atau Gross Domestic Product yang dalam istilah bahasa Indonesianya adalah Produk Domestik Bruto ( PDB ) adalah jumlah seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara pada suatu periode tertentu ( biasanya dalam periode satu tahun ). Istilah lain yang lazim dipakai di Indonesia adalah Pertumbuhan Ekonomi. Tentu kita sering dengar pertumbuhan ekonomi negara kita yang belakangan ini (2014 – 2019) selalu berada di 5%. Angka inilah yang dimaksud dengan GDP.

Yang kedua adalah inflasi. Definisi inflasi secara umum adalah penurunan nilai mata uang terhadap barang dan jasa pada periode waktu tertentu. Penurunan ini terjadi terus – menerus, karena sifat dari uang kartal yang dicetak melebihi jumlah barang dan jasa yang tersedia. Para ahli kemudian membagi inflasi ini menjadi 4 jenis, yaitu :

  1. Inflasi rendah, dimana tingkat inflasi dalam periode satu tahun berada di bawah 10%
  2. Inflasi sedang, dimana tingkat inflasi dalam periode satu tahun berada di antara 10% – 30%
  3. Inflasi tinggi, dimana tingkat inflasi dalam periode satu tahun berada di atas 30% – 100%
  4. Hiperinflasi atau inflasi sangat tinggi, dimana tingkat inflasi dalam periode satu tahun lebih dari 100%

Baca juga : Teknik Trading Sederhana Tapi Profit dengan Moving Average dan Bollinger Bands

Sebagai contoh, inflasi di Indonesia pada 2018 dinyatakan sebesar sekitar 3%. Artinya inflasi di Indonesia tergolong rendah. Bandingkan dnegan inflasi Turki yang berada di atas 12%, artinya termasuk kategori sedang atau inflasi di Venezuela yang konon disebut di angka 1.000.000 % di tahun 2018. Inflasi di Venezuela ini tergolong hiperinflasi atau inflasi sangat tinggi.

Berikutnya adalah angka pengangguran. Angka pengangguran menurut definisi adalah orang yang berada pada usia produktif namun tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan tapi belum mendapatkan pekerjaan. Angka pengangguran dihitung berdasarkan jumlah angkatan kerja, yakni jumlah orang yang berada di usia produktif ( 18 – 64 tahun ) berbanding dengan pengangguran.

Sebagai contoh, misalnya angka pengangguran di suatu negara adalah 5% dan penduduk usia produktif adalah 100 juta orang, maka jumlah pengangguran adalah 5 juta orang. Cara lainnya, jika jumlah pengangguran adalah 3 juta orang dari penduduk 60 juta orang, maka angka pengangguran berada pada 5%. Jadi, perlu diingat bahwa faktor pembandingnya bukan jumlah penduduk, tapi jumlah penduduk pada usia produktif / angkatan kerja.

Suku bunga adalah nilai besaran bunga yang ditetapkan suatu bank sentral atau lembaga keuangan moneter suatu negara. Nilai suku bunga ini diatur dan ditetapkan berdasarkan berbagai macam data ekonomi, dan punya tujuan yang berbeda – beda. Ada yang ditetapkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan sektor riil, ada juga justru untuk meredam kencangnya laju ekonomi.

Suku bunga ini punya dampak luas dan saling berkaitan dalam kehidupan. Karena bank – bank umum menetapkan suku bunga untuk pinjaman dan simpanan di tempat mereka berdasarkan nilai suku bunga bank sentral. Jika suku bunga bank sentral naik, biasanya diikuti pula dengan kenaikan suku bunga pinjaman ke nasabah di bank – bank umum. Sebaliknya, jika suku bunga bank sentral turun maka ada kemungkinan bagi bank – bank umum untuk menurunkan tingkat suku bunga pinjaman mereka kepada nasabah.

Setelah mengetahui keempat hal tersebut, kemudian kita masuk ke pembahasan ke forex. Tentu saja ada faktor lain yang bisa mempengaruhi pergerakan forex, namun kita akan fokus kepada empat indikator di atas.

Secara singkat, rilis data GDP yang positif akan berdampak juga positif buat suatu mata uang. Ekonomi yang bertumbuh artinya aktivitas ekonomi berjalan dengan baik dan mengundang investor asing untuk menanamkan modalnya di suatu negara. Masuknya dana asing ini akan berdampak pada tingginya permintaan mata uang lokal, sehingga mata uang lokal bisa menguat terhadap mata uang lain.

Sementara itu inflasi yang naik akan positif untuk suatu mata uang, selama terkendali. Inflasi yang naik secara terkendali, sama dengan naiknya pertumbuhan GDP berarti permintaan konsumen di suatu negara bagus. Permintaan masyarakat suatu negara yang kuat menunjukkan pemrintaan terhadap barang dan jasa yang juga kuat, sehingga investor optimis dengan menginvestasikan uangnya. Investasi ini akan menguntungkan karena daya beli masyarakat ada.

Angka pengangguran yang rendah, akan berdampak positif buat mata uang. Rendahnya tingkat pengangguran berkaitan dengan faktor inflasi, karena masyarakat yang memiliki penghasilan akan mampu untuk membelanjakan penghasilannya dalam bentuk barang dan jasa. Pada akhirnya, akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di suatu negara.

Yang paling penting dari semuanya, adalah tingkat suku bunga. Investor jangka pendek, termasuk di dalamnya investor di pasar mata uang selalu mengamati pergerakan suku bunga. Investor cenderung memilih negara yang memiliki tingkat suku bunga tinggi tapi negaranya stabil. Jadi, bukan hanya faktor tingginya bunga tapi dari faktor keamanan juga berpengaruh. Aman tidaknya ekonomi suatu negara biasanya dilihat dari credit rating dari institusi ternama seperti Moody’s, Fitch atau S&P.

Fenomena yang berkaitan dengan suku bunga ini sering disebut dengan istilah risk on / risk off atau juga carry trade. Carry trade adalah aktivitas investor meminjam uang dari negara berbunga rendah lalu menginvestasikannya ke negara dengan bunga lebih tinggi. Selisih dari perbedaan suku bunga ini disebut swap, ini yang banyak diburu investor. Swap biasanya menggunakan acuan London Interbank Offering rates (Libor) yang diperbarui tiap hari.

Sebagai contoh, suku bunga surat utang Indonesia 10 Tahun adalah 7,5% sedangkan surat utang USA 10 tahun adalah 2,5%. Selisish 5% ini yang dicari investor, karena dengan meminjam dollar lalu diinvestasikan ke pasar Indonesia, maka dollar yang hanya menghasilkan keuntungan 2,5% berubah jadi 7,5% (dengan asumsi kurs tidak berubah).

Gabungan dari kesemuanya, GDP yang tumbuh, inflasi yang terjaga, pengangguran yang rendah dan suku bunga yang cukup tinggi, secara umumnya bisa membuat investor masuk ke pasar uang suatu negara maupun sektor riilnya. Pada akhirnya, dana – dana yang masuk ini bisa membuat mata uang menguat di jangka panjang, selama kesemua hal tersebut terjaga. Jika salah satu mulai ada perubahan, investor juga mulai melakukan kalkulasi terhadap investasinya bahkan bukan tidakmungkin keluar dari pasar suatu negara.

Hubungan dari keempat indikator ini sewajarnya adalah seperti yang disebutkan di atas. Namun terkadang saat suatu berita rilis positif, justru mata uang yang bersangkutan melemah. Di sini, banyak trader yang mungkin kebingungan bahkan menyerah dalam mempelajari fundamental lebih lanjut. Kemudian, berkembang pemahaman bahwa belajar fundamental itu sulit. Seperti yang sudah disebut, banyak faktor lain yang jadi pertimbangan pergerakan forex selain hanya data yang lebih baik atau lebih buruk. Oleh karena itu, kita sebaiknya tetap belajar dan memahami setiap reaksi pasar terhadap rilis suatu berita.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *